Ragam Manusia dari Aspek Ketaatan Beragama Laki-Laki

Postingan sebelumnya mengajak Anda untuk mengetahui tingkat kepercayaan diri Anda. Pada postingan kali ini, saya akan membahas dari segi ketaatan beragama. Dari sisi agama, pembahasan dilakukan dengan sedikit pemisahan antara perempuan dan laki-laki. Memang agak berbeda dengan pembahasan dari sisi kepercayaan diri dan kepribadian yang tidak membedakan pria dan wanita ke dalam dua kategori terpisah. Tetapi secara umum, manusia -laki-laki dan perempuan- termasuk ke dalam salah satu kategori orang yang taat beragama, orang yang biasa saja, atau orang yang tidak taat beragama. Dari tiga golongan manusia secara umum ini akan dikemukakan bahasan laki-laki dan perempuan dalam terminologi masing-masing. Inilah yang membedakan sisi agama dari kedua sisi lain; kepribadian dan kepercayaan.

Laki-laki yang taat beragama terbagi ke dalam dua jenis : pertama mereka taat beragama tetapi pada saat bersamaan masih mengerjakan dosa dan maksiat, kedua adalah mereka yang takut melakukan dosa dan karenanya mereka menjadi orang yang taat. Kedua golongan laki-laki ini sama-sama menghendaki kebahagiaan dalam rumah tangga dan menjadikan ikatan perkawinan, sebagai jalan menuju ridha Tuhan. Untuk itu, kebanyakan mereka menikahi lebih dari satu wanita (poligami kali ya maksudnya )🙂 Semua istrinya diharapkan mempunyai tingkat ketaatan beragama yang minimal sama dengannya. Berbagai ajaran dan doktrin ditekankan untuk mencapai harapan itu. Keberhasilan yang luar biasa jika suami bisa mendukung ketaatan dari salah satu atau semua istrinya lebih tinggi daripada ketundukannya kepada ajaran agama. Laki-laki dalam kelompok taat beragama biasanya menempatkan beberapa kriteria untuk wanita yang akan dinikahinya, termasuk kriteria dari sisi keturunan.

Yang pertama menjadi pertimbangan adalah apakah wanita yang akan dinikahinya itu benar-benar cinta kepadanya atau tidak. Bila ketulusannya tidak diragukan lagi maka pertimbangan kedua adalah akhlaq (moralitas). Setelah kedua pertimbangan itu lolos, maka tidak ada hambatan lagi untuk segera meyakinkan diri bahwa wanita inilah calon istri yang disediakan Tuhan untuknya.

Jenis kedua dari laki-laki yang keberagamaannya sedang adalah mereka yang percaya bahwa Islam dibangun di atas lima pondasi; syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji. Maka dalam ibadah tidak ada yang perlu diperdebatkan dan dibebankan kepada manusia diluar yang lima itu. Mereka adalah para penganut paham sekuler, yaitu paham yang -dalam skala yang lebih besar- memisahkan agama dengan urusan-urusan negara.

Laki-laki yang beragama tetapi sekuler menganut paham bila shalat wajib, puasa wajib, dan haji telah dijalankan, maka semuanya telah cukup, dan karenanya dia merasa muslim yang benar. Pada ketertarikan dengan wanita, laki-laki tipe ini menginginkan pendamping yang sama-sama memiliki paham keagamaan mirip dengannya atau lebih sekuler darinya.  Dia tidak menginginkan untuk memiliki pendamping seorang istri yang taat berkerudung. Baginya berkerudung dan berpakaian muslimah berada di luar pondasi Islam yang lima itu. Dia menyaratkan bagi wanita yang akan dinikahinya seorang yang cantik untuk dibanggakan di depan teman-temannya sesama penganut paham sekuler.

Kategori terakhir adalah laki-laki yang tidak taat beragama. Kategori ini juga dibagi menjadi dua. Pertama mereka yang sejak kecil tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang longgar (permisif) dari sisi agama dan akhlak. Dimaksud longgar secara agama disini adalah kebebasan bagi anak untuk menjalankan agama atau tidak menjalankannya. Orang tua tidak mempunyai paham bahwa agama anak memerlukan intervensi atau bertanggung jawab untuk mengarahkan keberagamaan anaknya. Sedangkan longgar secara moralitas adalah penetapan nilai-nilai kesantunan yang sangat longgar. Ketika si anak semakin bertambah dewasa, maka akan semakin jauh dari perhatian dan pengawasan keluarga, dan dia akan menganut kebebasan berperilaku sebagaimana kebebasan itu diterapkan ketika masih kecil. Satu-satunya lembaga sosial yang bisa mengendalikannya adalah masyarakat di sekitarnya. Laki-laki model ini memiliki ketundukan yang kuat terhadap kontrol sosial jauh dari ketundukan kepada nilai kekerabatan yang sejak  awal berlangsung secara longgar.

Jenis kedua dari kelompok yang tidak taat beragama adalah laki-laki yang sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan yang bukan hanya longgar secara agama dan akhlak melainkan telah sampai pada level pengingkaran dari sisi agama dan penafian norma dan nilai tertentu. Tidak banyak yang harus dijelaskan tentang kelompok terakhir ini, perlu digaris bawahi bahwa bila manusia semakin memanjakan kenginan  dan hawa nafsunya, maka dia tidak akan bertambah dewasa secara agama dan akhlaq, malah dari hari ke hari semakin menjadi bayi !

Titik lemah laki-laki pada model terakhir adalah pada konsep hidupnya yang membabi buta. Dia akan cenderung mengukur segala sesuatu dengan barometer dirinya atau -setidaknya- menggunakan ukuran pengalaman sebelumnya untuk hal-hal yang belum tentu dipersandingkan dalam bingkai komparasi. Dalam menentukan sikap dengan kenalan wanita  barunya, laki-laki ini akan bersikap dengan cara yang sama saat di bergaul dengan wanita kenalan lamanya -yang biasanya- sama-sama kurang berakhlak seperti dirinya.

Dimatanya semua wanita sama. Sama-sama seperti dirinya, tidak peduli dengan nilai dan norma. Wanita yang diinginkan laki-laki semacam ini untuk menjadi pendamping bisa jadi seseorang yang belum memiliki pengalaman bebas atau yang sepaham dengannya. Bagi laki-laki tipe ini, wanita jenis pertama diinginkan karena lantaran masa lalu semua orang sama dengan masa lalu dirinya, dan itu bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Sedang wanita jenis kedua yang dipilihnya semata-mata karena kedekatan sifat dan kebiasaan, sehingga hal itu lebih memudahkan proses adaptasi. Istri dari laki-laki dengan pemahaman semacam ini selalu berpotensi tertekan akibat perilaku dan sikap suaminya. Lebih parah lagi, mereka harus banyak berpura-pura menunjukan wajah bahagia agar ketidaknyamanan itu tidak semakin bertambah.

Untuk kesekian kalinya banyak aspek yang bisa diukur dari kehidupan sesorang termasuk dalam hal beragama. Untuk para laki-laki termasuk golongan manakah kalian? jika Anda merasa berada pada golongan yang tidak taat beragama semoga ini menjadikan Anda landasan untuk memperbaiki diri. Setidaknya bukan untuk orang lain tetapi untuk kebaikan diri Anda sendiri. Jadi selamat berubah🙂

Sedangkan untuk wanita, tunggu postingan berikutnya ya, siap-siap untuk mempelajari dimana posisi kalian berada.🙂

2 thoughts on “Ragam Manusia dari Aspek Ketaatan Beragama Laki-Laki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s